<head> <!-- --><style type="text/css">@import url(http://www.blogger.com/static/v1/v-css/navbar/697174003-classic.css); div.b-mobile {display:none;} </style> </head><body> <body> /head> <body bgcolor="#FFFFFF" background="http://www.tbm7.blogger.com.br/t31_2.jpg" leftmargin="0" topmargin="0" marginwidth="0" marginheight="0">

[ About me ]
Name: Nastiti Widayanti
Location: Jakarta
Kunanti Cahaya_Rembulan agar bisa menari...... di bawah sinarmu terlukiskan Hamparan Kesejukan ... harapan impian kecilku terlaksana... jari-Jari lentikku menari ditemani Cahaya_Rembulan ... Keagungan karya Sang Pencipta

[ archieves ]

  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • August 2005
  • September 2005
  • October 2005
  • November 2005
  • December 2005
  • January 2006
  • February 2006
  • March 2006
  • April 2006
  • May 2006
  • June 2006

  • [ previous post]

  • Selamat Tahun Baru 1 Muharam 1426 Hijriah
  • Happy Anniversary
  • Setahun yg lalu
  • Happy New Year 2006
  • Formalin dan bahayanya
  • Catatan Jumat: MENGAPA ????
  • Ibu
  • Happy Anniversary
  • Suara Sahabat
  • Catatan Jumat

  • [ Friends ]

    + Ahanet +
    + MyJogja +
    + Aniek +
    + Atika +
    + Atika2 +
    + Amma +
    + Amma2 +
    + Amad +
    + Amanble +
    + BayuGawtama +
    + BADjoel +
    + Beton +
    + Bodi +
    + Bonang +
    + Crillinz +
    + Dina +
    + Dina2 +
    + Epri +
    + Eyangtjendana +
    + Gembull +
    + Gina +
    + Herry +
    + Hetta +
    + Imam +
    + Inos +
    + Ipal +
    + Godril +
    + Isnaini +
    + JohnHendrawan +
    + KangmasAnom +
    + Konang +
    + Lesehan +
    + Lantip +
    + Maschan +
    + Nurul +
    + Masdan +
    + Mimi +
    + Nia +
    + Nita +
    + Ninink +
    + RatihWulan +
    + Reta +
    + Rini +
    + Ronny +
    + Rayofshadow +
    + Ruddin +
    + Sasa +
    + Sexy +
    + Titux +
    + Wiwit +
    + Uyung +
    + Vivie +
    + Yayaz +
    + Youtea +
    + Ziddan +

    [ sites ]

    + My Office +
    + Yayasan Yatim Piatu +
    + Pengajian +
    + Detik +
    + Kompas +
    + Jadwal Kereta +
    + Friendster +
    + Blogger +
    + Yahoo +
    + Kamus Bahasa +
    + Mode +
    + GlodokShop +
    + HanyaWanita +
    + Wikipedia +

    [ Shoutbox ]

    Name

    URL or Email

    Messages(smilies)



    [Friday, February 03, 2006]

    Catatan Jumat: Menumbuhkan Sensitivitas Hati | 2 comments

    Suatu saat, terjadi perbincangan antara Abu Bakar dan Rabi'ah al-Aslami. Tanpa disengaja Abu Bakar mengucapkan kata-kata yang kurang menyenangkan lawan bicaranya. Ia sungguh menyesal lalu berkata, "Wahai Rabi'ah, katakanlah kepadaku kata-kata yang sepadan dengannya agar menjadi qishash bagiku."

    "Tidak," jawab Rabi'ah. Abu Bakar terus membujuknya, "Engkau harus katakan atau kuadukan kepada Rasulullah agar memaksamu mengatakannya." Namun Rabi'ah tetap tidak mau melakukannya.

    Seketika itu beranjaklah Abu Bakar menuju kediaman Rasulullah diikuti Rabi'ah untuk menyampaikan apa yang terjadi. Rasulullah mengangkat mukanya seraya bertanya, "Wahai Rabi'ah, apa yang terjadi antara dirimu dan Ash Shiddiq?"

    Rabi'ah menceritakan apa yang terjadi. "Kalau begitu katakan saja sesuatu yang sepadan dengan kata-kata yang dilontarkan kepadamu sebagai qishash," Rasul memberi saran.

    Namun Rabi'ah tetap bungkam seribu bahasa. Ia tidak mau membalasnya. Akhirnya berkatalah Rasulullah SAW, "Tentu engkau enggan membalasnya. Jika begitu, katakanlah, 'Semoga Allah mengampuni dosamu, wahai Abu Bakar'."

    Rabi'ah pun berkata, "Semoga Allah mengampuni dosamu, wahai Abu Bakar." Seketika itu berpalinglah Abu Bakar RA sambil menangis.

    Sensitif terhadap dosa Apa yang terjadi pada Abu Bakar? Mengapa ia ngotot meminta Rabi'ah untuk mengqishashnya? Bahkan sampai mengadukannya pada Rasulullah SAW, padahal kesalahan dilakukan tidak disengaja.

    Ternyata kejadian seperti ini tidak hanya terjadi kepada Abu Bakar. Hampir semua sahabat merasakan yang sama. Mereka sangat sensitif terhadap dosa walaupun kecil. Anas bin Malik mengungkapkan betapa sensitifnya para sahabat terhadap dosa, hingga mereka tidak mau melakukan dosa sekecil apa pun. Katanya, sesungguhnya kamu mengerjakan amalan-amalan yang menurut pandanganmu lebih lembut dan halus daripada rambut, sedang kami pada masa Rasulullah SAW menganggapnya termasuk amalan-amalan yang bisa merusak amal kebaikan.

    Bandingkan dengan kita yang hidup di zaman yang peluang berbuat dosa itu sangat besar. Apa yang kita rasakan? Sudah sensitifkah perasaan kita sebagaimana para sahabat? Padahal keselamatan kita tergantung pada sejauh mana sensitifitas hati merasakan dosa.

    Jangan berpikir melakukan maksiat Kita hidup di zaman yang menyediakan banyak pintu kemaksiatan. Ironisnya, kita sering dibuat tidak berdaya lalu dipaksa menyerah oleh kenyataan. Bagaimana menghadapinya?

    Kunci pertama agar kita tidak terjerumus pada kemaksiatan adalah dengan tidak memulai berbuat maksiat. Menjaga pikiran sangat penting, karena segala tindakan berawal dari pikiran. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan dengan detil proses timbulnya tindakan ini. Katanya, "Lawanlah lintasan itu! Jika dibiarkan, ia kan menjadi fikrah (gagasan). Lawanlah fikrah itu! Jika tidak, ia kan menjadi syahwat. Perangilah syahwat! Jika tidak, ia akan menjadi azimah (hasrat). Apabila ini tidak juga dilawan, ia akan menjadi perbuatan. Dan jika perbuatan itu tidak anda temukan lawannya, maka ia kan menjadi kebiasaan dan setelah itu sulit bagi kita meninggalkannya".

    Jangan pernah berpikir untuk berbuat maksiat walaupun kecil. Memulai berbuat maksiat berarti kita membuka pintu hati. Sekali terbuka, maka berbuat maksiat akan menjadi lebih mudah. Ingat, perbuatan maksiat dapat melahirkan maksiat yang lainnya. Sehingga perlu energi yang sangat kuat untuk menutupnya kembali.

    Kunci kedua adalah menjernihkan hati. Jangan biarkan hati kita terkotori dosa. Dengan hati yang jernih kita bisa lebih sensitif terhadap maksiat. Hati adalah raja tubuh kita. selain itu, hati pun memiliki sifat "terbolak-balik". Maka, untuk menjernihkannya diperlukan latihan yang disebut mujahadah.

    Setidaknya ada empat cara ber-mujahadah. Pertama, uzlah atau menyendiri. Melakukan uzlah bukan berarti harus menjauhkan diri dari manusia, sebab Rasulullah SAW lebih menyukai Mukmin yang berada di tengah-tengah masyarakat dibanding yang menjauh. "Seorang Mukmin yang bergaul dengan masyarakat dan bersabar menghadapi gangguan mereka, lebih baik daripada yang tidak bergaul dengan mereja dan tidak bersabar menghadapi gangguan mereka" (HR Ahmad).

    Uzlah di sini maksudnya adalah berpaling dari hal-hal yang buruk dan tidak bermanfaat. Sikap ini melahirkan sikap kehati-hatian agar tidak terbawa arus negatif. Namun pada saat yang lain ia harus hidup di tengah masyarakat untuk memberi bimbingan dan keteladanan.

    Kedua, as sukut (diam). Yang dimaksud adalah tidak mengucapkan kata-kata tidak berguna, yaitu berucap tidak melebihi kadar dan situasi yang dihadapi. Rasulullah SAW mengingatkan kita untuk bersungguh-sungguh menjaga lidah, karena salah satu sumber bencana adalah lidah. Banyak bicara akan memberi peluang bagi untuk mengatakan yang sia-sia, bertele-tele, ghibah, dan dusta.

    Ketiga, al ju' (lapar). Membersihkan hati sungguh berat. Penghalang terbesarnya adalah nafsu. Karena itu nafsu mesti dikendalikan. Salah satu metode mengendalikan nafsu adalah menolak ajakannya untuk makan dan berhubungan seks melalui ritual puasa.

    Keempat, as sahr (bangun malam). Menyedikitkan tidur di malam hari adalah sarana pembersihan hati yang sangat efektif. Pada saat itu kita bisa shalat, muhasabah, doa, bertafakur, dsb.

    Dua kunci di atas insya Allah akan membantu kita untuk menumbuhkan sensitivitas hati terhadap dosa. Sebanyak apa pun tarikan untuk berbuat dosa, bila kita serius menghindarinya, Allah pasti akan memberikan pertolongan.

    Note: Diambil dari harian Republika, Jumat 3 februari 2006 semoga aku dpt mengambil hikmah tuisan ini aminnnn

    post by wida * 2/03/2006 03:32:00 PM